Tetapi ketika musiknya mulai dimainkan, semua konteks tersebut bisa saja hilang.
Yang tersisa hanya suara.
Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar “Teardrop”.
Ia bukan lagu yang harus didengarkan sambil mencari tahu apa arti setiap baris liriknya. Kadang lagu ini justru lebih bekerja ketika didengarkan dalam keadaan sunyi, malam hari, atau ketika pikiran sedang penuh.
Karena “Teardrop” tidak benar-benar memberi tahu kita apa yang harus dirasakan.
Ia hanya menciptakan ruang untuk merasakannya sendiri.
Dan lebih dari 25 tahun setelah dirilis, ruang itu masih terasa sama luasnya.