Mengupas Tuntas Album Foals Everything Not Saved Will Be Lost Part 2: Mahakarya Rock yang Agresif

S
Secrita
Mengupas Tuntas Album Foals Everything Not Saved Will Be Lost Part 2: Mahakarya Rock yang Agresif

Mengupas Tuntas Album foals everything not saved will be lost part 2: Mahakarya Rock yang Agresif

Tahun 2019 menjadi saksi salah satu manuver paling ambisius di kancah musik rock modern. Ketika banyak musisi memilih bermain aman dengan merilis single secara sporadis demi algoritma, unit indie rock asal Oxford ini justru melepas dua album penuh sekaligus dalam rentang waktu kurang dari setahun. Jika bagian pertamanya terasa seperti pesta dansa elektronik di ambang kiamat, maka album foals everything not saved will be lost part 2 adalah suara dari reruntuhan yang terbakar setelah pesta tersebut usai.

Pada saat itu, skena musik Inggris sedang asyik bereksperimen dengan perpaduan jazz, post-punk, dan pop elektronik. Namun, Foals memilih untuk menengok ke belakang, menggali lagi energi mentah yang dulu membuat mereka jatuh cinta pada musik berbasis instrumen analog. Strategi ini terbukti jitu, memberikan warna kontras yang sangat dibutuhkan oleh industri.

Bagi kamu yang mengikuti perjalanan musik yannis philippakis dan kawan-kawan, mendengarkan rilisan ini rasanya seperti diajak bernostalgia sekaligus ditampar oleh energi baru yang luar biasa buas. Tapi, bagaimana sebenarnya mereka meracik energi sepadat ini ke dalam sebuah piringan hitam? Mari kita bedah proses kreatif di balik layar.

Proses Meracik foals everything not saved will be lost part 2

Keputusan untuk memecah proyek Everything Not Saved Will Be Lost menjadi dua bagian bukanlah strategi marketing belaka, melainkan sebuah kebutuhan artistik murni. Saat masuk ke studio 119 di Peckham, London, band ini memiliki lebih dari 20 materi lagu yang siap digarap. Mereka sadar bahwa memasukkan semuanya ke dalam satu rilisan akan membuat pendengar kelelahan karena dinamika suaranya yang saling bertabrakan.

Oleh karena itu, Foals memilah materi tersebut berdasarkan DNA suaranya. Bagian pertama didominasi oleh synthesizer, elemen elektronik, dan alur groove yang kental. Sebaliknya, bagian kedua sengaja dirancang untuk menjadi ruang berekspresi bagi distorsi, riff gitar yang tebal, dan agresi emosional yang meluap-luap.

Cerita Lainnya

After-Read Selection

Sonic Cosmic.

Eps: The Great Transition

Listen Cosmic