Mengupas Tuntas Album Foals Everything Not Saved Will Be Lost Part 2: Mahakarya Rock yang Agresif

S
Secrita
Mengupas Tuntas Album Foals Everything Not Saved Will Be Lost Part 2: Mahakarya Rock yang Agresif

Kembali ke Akar: Eksplorasi Riff dan Ketukan Masif

Ada alasan teknis mengapa album ini terdengar jauh lebih mentah, organik, dan bertenaga. Dalam proses rekamannya, mereka mengambil alih kursi produser utama, memberi mereka kebebasan absolut untuk bereksperimen tanpa campur tangan pihak luar.

Berikut adalah beberapa elemen kunci bagaimana Foals membangun arsitektur suara yang masif di album ini:

  • Eksplorasi Ampli Gitar Tabung: yannis philippakis dan Jimmy Smith benar-benar memaksimalkan penggunaan ampli gitar analog untuk mendapatkan saturasi suara yang natural. Trek seperti Black Bull adalah contoh sempurna di mana gitar terdengar sangat tebal, seolah merobek speaker yang kamu gunakan.

  • Tata Suara Drum Jack Bevan: Ketimbang menggunakan banyak drum machine atau melooping ritme seperti di beberapa karya sebelumnya, ketukan drum di sini direkam dengan ambient mic yang ditata sedemikian rupa. Tujuannya adalah menangkap pantulan gema ruangan studio, memberikan kesan live concert yang sangat kuat di telinga pendengar.

  • Eksperimen Bass Tanpa Walter Gervers: Keluarnya sang bassis, Walter Gervers, sebelum proses rekaman dimulai sempat menjadi tantangan. Anggota yang tersisa akhirnya harus mengisi porsi bass secara bergantian. Menariknya, keterbatasan ini justru melahirkan bassline yang lebih ritmis, kotor, dan terikat sangat kuat dengan ketukan drum.

  • Sintesis Math Rock dan Stadium Rock: Mereka berhasil mengambil kerumitan ketukan math rock dari era album Antidotes (2008) dan mengemasnya ulang dalam format stadium rock yang megah, lebar, dan mengundang sing-along.

Cerita Lainnya

After-Read Selection

Sonic Cosmic.

Eps: The Great Transition

Listen Cosmic