Secrita
Kebutuhan pengalaman live yang kuat. Pendengar mencari musik yang memberi sensasi kuat di event/festival — geerakan drop, bass-ketukan, visual. Tren ini mendorong techno, D&B, dan sub-genre high-BPM.
Globalisasi dan akses digital. Platform streaming dan sosial media membuat pendengar di berbagai negara bisa mengeksplor genre yang sebelumnya hanya “underground”.
Keinginan akan “baru” namun tetap familiar. Genre-genre fusion atau yang menggabungkan nostalgia + teknologi memenuhi kebutuhan ini: terdengar segar tetapi tidak asing.
Teknologi produksi yang semakin mudah. Produser independen bisa mengeksplor genre niche dan eksperimen, sehingga muncul lebih banyak musik dari sub-genre yang sebelumnya kecil.
Efek festival dan budaya rave makin besar. Karena festival semakin global, genre yang “festival ready” — enerjik, drop besar, visual menarik — makin dicari. Sebagaimana data bahwa EDM mengambil porsi besar di Coachella 2025.
Bagi pelaku industri musik (DJ, promotor, label) dan pendengar di Indonesia, perubahan genre-EDM ini bisa dimanfaatkan:
Promotor/Event: Jika ingin menarik crowd muda dan energik, event yang menghadirkan techno, D&B, atau Afro-House bisa jadi keunggulan.
DJ/Produser Lokal: Memahami trend ini bisa berarti mencoba memproduksi atau memainkan set-list dengan sub-genre yang belum “jenuh” di pasar Indonesia — misalnya Afro-Tech atau house nostalgia.