Secrita
Genre techno — terutama versi yang lebih keras (Hard techno) — diprediksi akan terus naik.
Mengapa? Karena pendengar muda mencari pengalaman yang intens, “berdansa keras”, dan techno menawarkan itu dengan beat cepat, atmosfer gelap, serta orientasi live.
Di festival besar hingga klub bawah tanah, techno yaitu gaya “four-on-the-floor” dengan tekstur yang lebih dalam terasa lebih menarik dibanding EDM komersial yang lebih ringan.
Sub-genre D&B juga disebut sebagai pemenang berikutnya: tempo tinggi (umumnya 160-180 BPM), bass yang kuat, dan energi tinggi membuatnya cocok untuk crowd yang mencari “kejutan” di lantai dansa.
Dalam konteks Indonesia khususnya, D&B juga sudah mulai mendapatkan ruang lebih besar di acara elektronik karena cocok dengan crowd festival dan after-party.
Genre yang menggabungkan elemen house/techno dengan ritme Afrika ini disebut mengalami pertumbuhan signifikan.
Kelebihannya: ritme yang “groovy” dan berbeda dari house tradisional, tetapi tetap bisa diterima oleh crowd internasional. Untuk pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia, ini bisa menjadi peluang karena resonansi dengan ritme lokal yang sudah familiar dengan beat-groove tropis.
Genre seperti Future Rave (campuran techno + progressive house) telah muncul beberapa tahun lalu, namun masih relevan di 2025 sebagai genre “escapism” EDM yang membawa sensasi futuristik sekaligus rave-energetik.
Karakteristik: build-up panjang, vokal anthem, drop besar, dan groove yang lebih “roll” dibanding big-room tradisional.
House masih tetap populer — tetapi versi yang menonjol adalah yang menggabungkan elemen nostalgia (misalnya dari 90-an atau 2000-an) atau menggabungkan elemen lain seperti garage, UK-g, atau elektronik lebih ringan.
Contoh: house dengan sample retro, vokal soulful, groove yang lebih santai namun tetap “dansable”.
Beberapa alasan utama mengapa genre-tertentu naik di 2025: