Secrita
Duo asal Bali ini, yakni Gabber Modus Operandi (selanjutnya “GMO”) yang terdiri dari Kasimyn dan Ican Harem, terkenal karena mengeksplorasi batas antara musik tradisional Indonesia dan elektronik ekstrem. Mereka bukan sekadar menghasilkan musik yang cepat atau keras — melainkan mencoba memadukan identitas budaya lokal dengan estetika global musik rave dan noise.
Secara umum, GMO muncul di era ketika banyak musisi Indonesia yang mengadopsi gaya Barat. Namun GMO memilih untuk kembali ke akar mereka — ke suara lokal — lalu menyuntikkannya ke dalam produksi elektronik mereka.
Salah satu aspek paling mencolok dari GMO adalah bagaimana mereka mengambil elemen dari musik tradisional Indonesia — seperti gamelan Bali, skala pelog/slendro — lalu mengintegrasikannya ke dalam struktur elektronika dan techno. Sebagai contoh, Kasimyn menjelaskan bahwa ia memakai skala gamelan pelog untuk menyusun lead utama dalam produksi mereka.
Selain itu, mereka juga mengutip gaya musik seperti dangdut, koplo, dan tradisi lokal yang sering kali dianggap “pinggiran” oleh arus utama. GMO menyebut bahwa “traditional music surrounding us” adalah pengaruh utama mereka.
Mereka juga terlibat dalam sub-kultur motor, street-racing, Alay (budaya internet/anak muda Indonesia), yang kemudian menjadi bagian dari estetika mereka. Dari wawancara:
“We have a lot of opinions from people in Europe saying, ‘what you’re doing is not gabber.’ It’s like, ‘Uh, yeah!’” — Kasimyn
Hal tersebut menunjukkan bahwa GMO memang sadar bahwa apa yang mereka kerjakan tidak sekadar meniru gaya barat, melainkan menciptakan sesuatu yang khas.
Dari segi teknis produksi, GMO melakukan beberapa hal yang cukup unik:
Mereka tidak hanya mengambil sampel gamelan atau tradisi, tetapi menggunakan skala gamelan dan tuning non-barat untuk sintetiser dan produksi mereka. Kasimyn menceritakan bagaimana ia menggunakan skala pelog di Ableton Live dan memakai Microtuner untuk menyesuaikan instrument-digital dengan skala tradisional.