Secrita
Pentingnya Ekspresi: Slogan ini menegaskan bahwa musik adalah alat untuk berekspresi dan bersenang-senang, bukan ajang pamer keahlian. Ini menawarkan ruang bagi banyak orang untuk berkreasi tanpa perlu merasa minder karena batasan teknis.
Anti-Perfezionisme: Teenage Death Star menentang konsep perfezionisme yang sering menghambat kreativitas. Musik mereka terdengar mentah, kasar, dan penuh distorsi yang tidak sempurna—sebuah ciri khas garage rock atau noise rock yang ugal-ugalan.
Gerakan Budaya Pop Alternatif: Filosofi ini berhasil menarik perhatian generasi muda, khususnya mereka yang mencari jalur alternatif di luar musik arus utama. TDS mewakili semangat "anti-serius" yang sangat dibutuhkan di kancah yang kadang terlalu tegang.
Meskipun mengusung ketidakseriusan, karya-karya Teenage Death Star berhasil menembus batas-batas skena indie dan masuk ke ranah budaya pop yang lebih luas.
Album debut TDS, Longway to Nowhere (dirilis enam tahun setelah band ini berdiri), menjadi tonggak penting. Album ini menangkap esensi kegaduhan dan anarki mereka. Beberapa lagu dari album ini, bahkan versi yang lebih awal, sudah dikenal publik melalui jalur kompilasi dan soundtrack film.
Absolute Beginner Terror: Lagu ini, dengan judul yang juga merujuk pada ketidakmampuan awal mereka, menjadi salah satu anthem utama TDS. Lagu ini digunakan sebagai soundtrack film populer Catatan Akhir Sekolah (2005).
I've Got Johnny in My Head: Lagu ini juga ikut memperkuat eksistensi TDS di ranah sinema Indonesia dengan menjadi soundtrack film Janji Joni (2005).
Penggunaan lagu-lagu TDS di film-film tersebut membuktikan bahwa musik mereka yang "ugal-ugalan" ternyata memiliki daya tarik kuat dan relevan dengan semangat pemberontakan anak muda.
Materi yang lebih eksperimental, direkam secara live, yang kemudian dirilis oleh FFWD Records. Meskipun mereka sepakat untuk tidak menyebutnya sebagai album kedua, karya ini memberikan gambaran tentang proses kreatif yang lebih bebas struktur.