Secrita - November 03, 2025 - 12:41 | Secrita
Mengapa Slogan "Skill Is Dead, Let's Rock" Teenage Death Star Begitu Menggema di Skena Musik Indonesia?

Mengapa Slogan "Skill Is Dead, Let's Rock" Teenage Death Star Begitu Menggema di Skena Musik Indonesia?

Secrita

Di tengah kancah musik Indonesia yang sering kali menuntut kesempurnaan teknis dan musikalitas yang mumpuni, muncul sebuah anomali yang justru merayakan ketidaksempurnaan, kegaduhan, dan energi mentah: Teenage Death Star (TDS). Band asal Bandung ini bukan hanya sekadar kelompok musisi, melainkan sebuah pernyataan, bahkan sebuah manifesto yang dirangkum dalam empat kata ikonik: "Skill Is Dead, Let's Rock."

Slogan yang provokatif ini secara terang-terangan menabrak norma-norma industri, membuktikan bahwa orisinalitas, keberanian berekspresi, dan semangat hura-hura jauh lebih penting ketimbang selembar ijazah teori musik. Terbentuk di era transisi milenium, sekitar tahun 2002, Teenage Death Star berhasil menancapkan taringnya sebagai salah satu representasi paling jujur dari noise rock dan semangat urban yang urakan di Indonesia.

Dari Keresahan Urban Lahirlah Pemberontakan

Teenage Death Star lahir dari percampuran ide iseng dan keresahan beberapa anak muda Bandung. Awalnya, band ini lebih didominasi oleh semangat berpesta dan berkumpul (digambarkan 70% Party Bash, 29,8% Rock N Roll, dan hanya 0,2% Skill), yang kemudian bermetamorfosis menjadi sebuah band yang serius dalam ketidakseriusannya.

Personel Inti TDS:

  • Achong (Dandi Achmad Ramdani / Sir Dandy) – Vokal

  • Alvin Yunata – Gitar

  • Helvi Sjarifudin – Gitar

  • Satria Nurbambang (Iyo) – Bass

  • Firman Zaenudin – Drum

Acong (Sir Dandy), sang vokalis, dikenal dengan gaya vokal teriak yang seringkali absurd dan lirik yang sengaja tidak memusingkan. Bahkan, di awal penampilan perdana mereka, konon tidak ada lirik tertulis; Achong hanya berteriak-teriak mengikuti irama yang liar.

Konsep yang diusung TDS adalah nihilisme dalam bermusik. Mereka menolak terikat pada aturan akademik atau teori musik yang kaku. Bagi mereka, energi yang disalurkan, kejujuran dalam berteriak, dan keriaan di atas panggung adalah esensi dari rock n' roll sejati. Hal ini jugalah yang membuat TDS dijuluki sebagai "Noise Ambassador" oleh beberapa media musik.

"Skill Is Dead, Let's Rock": Filosofi yang Menggugat

Slogan "Skill Is Dead, Let's Rock" bukan hanya gimmick semata, melainkan sebuah filosofi yang menjadi identitas band. Dalam wawancara, personel TDS sering berkelakar tentang kemampuan teknis mereka yang biasa-biasa saja, bahkan mengaku tidak melihat perkembangan skill meski usia band terus bertambah.

artikel musik lainnya

Mitos atau Fakta: Benarkah Frekuensi Musik 432 Hz Mampu Mempengaruhi dan Menyembuhkan Tubuh?

Mitos atau Fakta: Benarkah Frekuensi Musik 432 Hz Mampu Mempengaruhi dan Menyembuhkan Tubuh?

Frekuensi 432 Hz diklaim lebih selaras dengan alam…

Dick Dale hingga The Panturas: Bagaimana Surf Rock Berlayar dari Pantai California ke Seluruh Dunia?

Dick Dale hingga The Panturas: Bagaimana Surf Rock Berlayar dari Pantai California ke Seluruh Dunia?

lusuri sejarah Surf Rock, genre rock instrumental…

Sukses Lancar Rejeki: Fenomena Pop-Punk Absurd yang Mengguncang Industri Musik Indonesia

Sukses Lancar Rejeki: Fenomena Pop-Punk Absurd yang Mengguncang Industri Musik Indonesia

Lirik Absurd Tapi Relatable: Kenapa Sukses Lancar…