Secrita
Band City of the Sun yang Lahir dari Jalanan: Mengubah Trotoar Menjadi Panggung Utama
Musik adalah bahasa universal, dan bagi duo post-rock akustik asal New York City, City of the Sun, konsep itu bukan sekadar kiasan. Mereka membuktikan bahwa melodi instrumental dapat berbicara lebih lantang daripada ribuan kata. Kisah mereka adalah ode modern tentang ketekunan dan kekuatan seni murni yang berakar kuat pada pengalaman otentik—tepatnya, di tengah hiruk pikuk jalanan dan stasiun kereta bawah tanah New York.
City of the Sun, yang kini digawangi oleh gitaris John Pita dan perkusionis Zach Para (dulunya trio dengan gitaris Avi Snow), telah menciptakan cetak biru unik untuk kesuksesan di era digital, di mana pengalaman langsung (live) tetap menjadi mata uang yang paling berharga. Genre mereka adalah perpaduan yang memabukkan: post-rock yang luas, jazz gipsi yang bersemangat, flamenco yang berapi-api, dan indie rock yang soulful. Ini adalah musik yang telah dijuluki "sinematik" dan "penuh petualangan", sebuah deskripsi yang sangat sesuai dengan perjalanan mereka dari musisi jalanan menjadi headline festival.
New York City, dengan jutaan penduduk dan ribuan ambisi yang berdesakan, adalah tempat yang kejam sekaligus suportif. Bagi banyak seniman, itu adalah tempat pengujian terakhir. Bagi City of the Sun, tempat itu adalah studio rekaman terbuka dan ruang konser pertama mereka.
Pada tahun 2011, benih City of the Sun mulai tumbuh ketika John Pita bertemu dengan anggota awal (Troubadour Adam Road, yang kemudian digantikan oleh Avi Snow dan bergabung dengan Zach Para). Mereka tidak memulai di studio rekaman atau di hadapan eksekutif label musik; mereka mulai dengan apa yang mereka miliki: gitar, perkusi, dan kemauan keras untuk bermain.
Jalanan—mulai dari Upper East Side hingga Union Square dan lorong-lorong bawah tanah—menjadi tempat mereka mengasah chemistry bermusik dan menemukan ciri khas suara mereka. Praktik busking (mengamen) adalah sekolah yang keras. Tidak ada mikrofon canggih atau akustik studio yang sempurna; hanya ada gemuruh kereta bawah tanah, klakson taksi, dan kerumunan yang terburu-buru. Dalam lingkungan yang menuntut perhatian, mereka belajar untuk bermain dengan dinamika dan emosi yang kuat.
"Kami hanya memainkan musik secara live dan orang-orang bereaksi sangat baik," kenang anggota band.
Pengalaman tampil harian di ruang publik ini memiliki dampak transformatif pada musik mereka: