Melihat angka frame rate (FPS) melonjak tinggi saat bermain game tentu memberikan kepuasan tersendiri bagi para gamer PC. Berkat hadirnya teknologi modern seperti Nvidia DLSS 3, AMD FSR 3, hingga fitur Frame Generation berbasis driver, game yang tadinya hanya berjalan di 60 FPS mendadak bisa tembus hingga 120 FPS atau lebih.
Namun, apakah angka tinggi di pojok layar tersebut selalu berbanding lurus dengan kenyamanan bermain? Jika kamu mengaktifkan fitur Frame Generation saat bermain game First-Person Shooter (FPS) kompetitif seperti Counter-Strike 2, Valorant, Overwatch 2, atau Apex Legends, kamu mungkin menyadari ada sesuatu yang aneh. Meskipun gerakan visual terlihat sangat halus, aim kamu justru terasa lebih berat, lambat, dan tidak akurat.
Banyak gamer terjebak dalam ilusi angka tinggi ini tanpa menyadari adanya efek samping yang tersembunyi. Mari kita bedah secara teknis mengapa teknologi Frame Generation justru bisa merusak respon kontrol saat kamu bermain game FPS.
Mengapa Frame Generation Menghasilkan "FPS Palsu"?
Untuk memahami penyebab masalah ini, kita perlu mengetahui cara kerja teknologi Frame Generation di tingkat hardware.
Secara sederhana, game merender gambar berdasarkan input langsung dari keyboard dan mouse kamu. Pada pengolahan grafis konvensional, setiap frame atau bingkai gambar yang muncul di layar berisi informasi posisi karakter dan pergerakan aim terbaru.
Frame Generation bekerja dengan cara yang berbeda:
-
Penyisipan Frame Buatan: AI atau algoritma khusus mengambil dua bingkai gambar asli yang dirender oleh GPU, lalu "menebak" dan membuat bingkai gambar tiruan di antara keduanya.
-
Tidak Ada Input Komputer Baru: Bingkai buatan (generated frame) tersebut murni buatan visual AI. Bingkai tersebut tidak memproses input terbaru dari pergerakan mouse kamu sama sekali.