Secrita
Apa yang membuat The Witcher 3 unggul? Jawabannya terletak pada kedalaman dan detail dunianya.
Narasi dengan Konsekuensi: Game ini tidak menawarkan pilihan "baik" atau "buruk" yang hitam-putih. Sebagian besar misi mengharuskan pemain membuat keputusan abu-abu yang membawa konsekuensi jangka panjang—seringkali pahit—pada karakter dan dunia di sekitarnya. Ini membuat peran Geralt sebagai seorang Witcher—yang seharusnya netral—terasa lebih relevan dan penuh dilema moral.
Kekayaan World-Building: Dari kota Novigrad yang ramai dan penuh intrik, rawa Velen yang gelap dan penuh nestapa, hingga kepulauan Skellige yang dingin dan mistis, setiap area terasa unik dan memiliki kisahnya sendiri. Detail terkecil seperti cerita di papan pengumuman hingga interaksi singkat dengan Non-Playable Character (NPC) semuanya berkontribusi pada imersi yang luar biasa.
Karakterisasi Mendalam: Hubungan Geralt dengan Yennefer, Triss, Ciri, dan bahkan si bard cerewet Jaskier terasa otentik. Para karakter sampingan, bahkan mereka yang hanya muncul di satu misi, memiliki latar belakang yang kaya dan tujuan yang jelas.
Kesuksesan The Witcher 3 bukan hanya pada kritik positif, tetapi juga pada penjualan yang masif. Hingga Mei 2023, game ini telah terjual lebih dari 50 juta kopi di seluruh dunia (Sumber: CD Projekt Red, 2023), menjadikannya salah satu waralaba game paling sukses. Penjualan ini bahkan mengalami lonjakan signifikan setelah serial Netflix pertama kali tayang, membuktikan bahwa adaptasi game yang luar biasa dapat memperkuat popularitas materi sumber.
Aspek gameplay dalam The Witcher 3 juga memuaskan. Sebagai Witcher, Geralt menggunakan pedang, ramuan, dan sihir (disebut Signs) dalam pertarungan.
Sistem Kontrak Monster: Misi "Witcher Contract" adalah inti pengalaman berburu monster, yang mewajibkan pemain melakukan riset monster via Bestiary, meracik ramuan yang sesuai, dan menggunakan Signs secara strategis. Ini jauh lebih dari sekadar hack-and-slash biasa.
Expansion yang Melebihi Game Utama: Dua ekspansi utamanya, Hearts of Stone dan Blood and Wine, juga mendapat pujian setinggi langit. Blood and Wine bahkan sering disebut sebagai game stand-alone yang sebanding dengan game AAA penuh.