-
Nada-nada piano sering dibiarkan menggantung, memberi ruang kosong di antaranya. Ruang inilah yang membuat pendengar bisa mengisi sendiri dengan kenangan atau perasaan masing-masing. Album ini terasa seperti cermin: apa yang kamu rasakan saat mendengarnya, sering kali datang dari dalam dirimu sendiri.
Keheningan bukan musuh dalam album ini. Diam, jeda, dan suara napas ruang justru menjadi elemen penting. Ini membuat Sentimental Value cocok didengarkan saat malam, hujan, atau ketika pikiran sedang penuh.
Piano tetap menjadi tulang punggung album ini. Permainannya lembut, tidak teknis berlebihan, tapi penuh nuansa. Hania Rani menggunakan dinamika yang halus, dari sentuhan nyaris tak terdengar hingga nada yang sedikit lebih tegas, namun tetap terkendali.
Selain piano, ada lapisan suara ambient yang tipis. Elektronik di sini tidak dominan, lebih seperti bayangan atau kabut yang menyelimuti melodi utama. Produksinya terasa bersih dan intim, seolah pendengar duduk di ruangan yang sama dengan sang musisi.
Banyak orang mengira musik instrumental hanya cocok sebagai background. Sentimental Value justru berada di area abu-abu. Ia bisa menjadi teman bekerja atau membaca, tetapi juga sangat layak didengarkan secara fokus.
Saat didengarkan dengan perhatian penuh, detail kecil akan terasa: gema piano, tarikan nada yang panjang, dan transisi yang nyaris tak terasa. Album ini tidak “menuntut”, tetapi memberi ruang.
Di tengah budaya serba cepat dan konten instan, Sentimental Value terasa seperti perlawanan halus. Album ini mengajak pendengar untuk melambat, meresapi, dan tidak selalu mencari klimaks.