Membangun PC gaming di tahun 2026 ternyata masih menyisakan tantangan yang sama seperti beberapa tahun lalu: harga komponen yang fluktuatif, terutama kartu grafis atau VGA. Meski teknologi ray tracing dan AI upscaling generasi terbaru sangat menggiurkan, label harganya seringkali membuat dompet menjerit. Banyak gamer akhirnya terjebak dalam dilema antara memaksakan membeli kartu grafis seri terbaru yang mahal atau menunda hobi mereka.
Namun, tahukah Anda bahwa di pasar barang bekas atau stok lama, masih banyak "harta karun" berupa VGA seri lawas yang punya nafas panjang? Jika target Anda adalah bermain di resolusi 1080p dengan frame rate yang stabil, Anda tidak selalu butuh seri RTX 40 atau 50 terbaru. Beberapa GPU dari era tiga hingga lima tahun lalu masih sangat mampu melahap game-game populer saat ini.
Fenomena Harga VGA yang Tak Kunjung "Ramah"
Ada beberapa alasan mengapa harga VGA seri terbaru tetap tinggi di tahun 2026. Mulai dari biaya produksi semikonduktor yang naik, permintaan tinggi untuk kebutuhan komputasi AI, hingga pajak impor yang cukup terasa di Indonesia. Hal ini membuat GPU kelas menengah (mid-range) yang dulunya ada di angka 3-4 jutaan, kini bisa melambung hingga 6-8 juta rupiah.
Di sinilah pasar VGA seri lama masuk sebagai penyelamat. Dengan strategi yang tepat, Anda bisa mendapatkan performa yang setara dengan kartu grafis entry-level masa kini, namun dengan harga separuhnya. Kuncinya adalah mengetahui seri mana yang masih mendapatkan dukungan driver dan memiliki efisiensi daya yang masuk akal.
Kriteria VGA Lama yang Masih Layak Pakai
Sebelum kita masuk ke daftar unitnya, kita perlu menetapkan standar "layak" di tahun 2026. Sebuah VGA lama dianggap masih relevan jika memenuhi kriteria berikut:
-
VRAM Minimal 6GB: Game modern saat ini sangat haus memori. VGA dengan VRAM 4GB mulai kesulitan menjalankan game AAA pada pengaturan Medium.
-
Dukungan DirectX 12: Penting agar game-game terbaru bisa berjalan tanpa crash.